Belajar harus dilakukan kapan pun dan di mana pun. Kalau tidak belajar ya mengajar. Kalau tidak mengajar ya belajar. PPM (Praktek Pengalaman Mengajar) adalah bagian dari mengajar. Sejatinya mengajar adalah melanjutkan kewajiban nasyrul ‘ilmi (menyebarkan ilmu) yang dilakukan oleh nabi, karena nabi adalah seorang pengajar (mu’alim) dan seorang pendidik (muaddib). Madrasah Salafiyah III mengadakan Training Praktik Pengalaman Mengajar pada Ahad, 20 Juni 2021. Training PPM ini merupakan kegiatan menuju PPM yang akan dilaksanakan oleh santri mustawa khomisah.

Nantinya saat PPM santri mustawa khomisah akan mengajar di mustawa-mustawa awwaliyyah, tsaniyah, dan tsalitsah, dengan berbagai pelajaran meliputi: nahwu, shorof, tauhid, akhlak, tajwid, tarikh, dan fiqih. Training PPM ini bertujuan untuk membekali santri sebelum melaksanakan PPM dan mengerjakan Tugas Akhir (TA) yang merupakan syarat menjadi mutakhorijat (wisudawati) pada wisuda masaga.

Training PPM terdiri dari dua sesi. Sesi I dengan materi Strategi Mengajar Daring oleh pemateri H. M. Ikhsanudin, M.S.I. dan dimoderatori oleh Nala Ikfina. Sesi II dengan materi metodologi Penelitian oleh pemateri Dr. Phil. Sahiron, M.A. dan dimoderatori oleh Eka Novitha. Tema Training PPM tahun 2021 adalah “Berkarya Tanpa Batas, Mengabdi Tanpa Henti”. Sebagaimana yang dianalogikan Pak Ikhsan (pemateri I) bahwa setelah makan hendaknya kita cuci piring terlebih dahulu. Maka sebelum boyong, hendaknya kita mengabdi/ khidmah terlebih dahulu. Khidmah sangat beragam bentuknya, salah satunya mengajar.

Sesi I diisi oleh H. M. Ikhsanudin, M.S.I. yang merupakan dosen di IIQ An-Nur Yogyakarta. Beliau menceritakan bahwa Almaghfurlah Kyai Zainal ‘Abidin Munawwir dan Almaghfurlah Kyai Ahmad Warson Munawwir adalah para ‘alim yang senang mengajar, bahkan menganggap mengajar merupakan bagian dari kenikmatan. Kalau sehari nggak mengajar, rasanya kayak ada yang kurang. Allah juga merupakan pendidik, disebutkan dalam Surat al-Fatihah pada lafadz رب العالمين menjelaskan bahwa Allah mendidik, menumbuhkembangkan alam. Baik itu alam ‘aqil (berakal) berupa jin dan manusia. Maupun alam ghoiru ‘aqil (tidak berakal) seperti hewan, tumbuhan, dsb. yang keseluruhan berjumlah 18.000 alam. Maka tugas kita bersama adalah untuk melanjutkan misi para nabi yaitu menyampaikan ilmu namun disesuaikan dengan konteks zaman sekarang.

Terdapat empat hal yang penting diperhatikan dalam proses belajar-mengajar: (1) Materi (maddah). Untuk mengajar tentunya diperlukan konten materi yang baik terlebih dahulu, pesantren sudah memiliki banyak maddah yang bagus dan terjamin sanad keilmuannya berupa kitab-kitab klasik yang disusun oleh ulama terdahulu. (2) Metodologi (thoriqoh). Metodologi itu lebih penting dari materi. Namun pesantren kurang mengembangkan metodologi dan media, padahal maddahnya sudah bagus, kitabnya bagus. Sebagai contoh les kursus bahasa asing yang menyediakan kursus 6 bulan fasih berbahasa asing, itu didukung dengan metode mengajar yang up to date. Maka sebagai generasi pesantren kita harus menggali dan melatih kemampuan untuk menggunakan metode pembelajaran yang  baik, efektif, dan terkini. (3)Kehadiran Jiwa. Dalam proses pembelajaran, jiwa ustadz/ guru/ mu’alim/ muaddib perlu hadir 100% di majelis ilmu, pikirannya fokus dan tidak memikirkan hal lain. Begitu pula dengan santri/ muridnya, perlu menghadirkan hati dengan penuh saat belajar. (4)Keterikatan Ruh (ta’aluq ruhiyah). Antara guru dengan santri perlu adanya ta’aluq ruhiyah. Hubungan mereka tidak hanya saat di kelas belajar. Namun lebih luas dari itu. Guru senantiasa mendoakan santri, santri selalu mendoakan guru. Baik didoakan secara umum (‘am) ataupun didoakan satu per satu.  Jika empat hal ini sudah dilakukan, maka hasilnya ilmu akan semakin baik dan manfaat.

Disampaikan oleh Pak Ikhsan bahwa santri jangan sampai meninggalkan ngaji dan mulang (mengajar). Menurut Ibnu Athoilah seseorang dalam mendapatkan rizqi terdapat dua maqom: (1)Maqam Kasab, yaitu upaya mendapatkan rizqi yang harus disertai dengan usaha. (2)Maqam Tajrid, yaitu mendapatkan rizqi tanpa disertai usaha. Pada awalnya mungkin saja santri mengajar dengan maqam kasab, namun seiring waktu jika mengajar dengan sepenuh hati, fokus, hatinya hadir 100 % maka akan mencapai maqam tajrid. Hidupnya tidak lagi disibukkan untuk urusan mencari rizqi, namun hidupnya diabdikan untuk kebermanfaatan kepada sesama.

Sunan Ampel pada mulanya hanya memiliki tiga santri. Namun karena keikhlasan dan perjuangannya dalam menyampaikan ilmu Allah, beliau menjadi wali yang sangat masyhur. Maka perlu kita menyampaikan ilmu yang telah kita dapatkan, yang telah kita pelajari. Karena seseorang tidak akan disebut alim kalau ilmunya tidak diamalkan kepada lingkungannya.

Sebagai guru perlu melatih diri dengan sifat wara’ (menjauhkan diri dari hal-hal syubhat), menjaga iffah atau kehormatan. Selalu niatkan mengajar sebagai bagian dari khidmah. Al-barokatu fi al-khidmah, al-kasyfu fi al-khidmah, seseorang bisa dibukakan rahasia ilmu itu dengan mengabdi, dengan berkhidmah. Namun mengajar tidak hanya asal mengajar. Perlu menguasai ilmunya terlebih dahulu, kalau belum punya cukup ilmu tapi sudah mengajar. Maka materi yang disampaikan tidak genuine, tidak asli, hanya copy paste, comot sana-sini tanpa tahu kebenarannya. Santri harus paham peta keilmuan pesantren, sehingga akan merujuk kepada sumber yang tepat.

Kaitannya dengan pembelajaran daring, banyak hal positif yang dapat diambil, contoh: beragamnya media yang bisa digunakan dalam pembelajaran daring seperti: foto, video, powerpoint, youtube, website, live fb/ig, dll. Sedangkan problem yang sering ditemukan adalah: sinyal, kuota, uang untuk membeli kuota, terkadang ada murid yang gadgetnya tidak mendukung, jika menggunakan virtual meeting, murid bisa saja mematikan video dan melakukan aktivitas lain yang tidak berkaitan dengan pembelajaran.

Sebagai pengajar pun harus mempersiapkan pembelajaran daring dengan baik, mulai dari materi, media, kesiapan mental, dsb. Cara terbaik untuk mengatasi nervous saat mengajar adalah dengan mempersiapkan sebaik mungkin. Misal mempersiapkan satu kitab matan, dan dua atau tiga kitab syarah atau kitab hasyiyah (syarahnya syarah). Dapat juga diselingi dengan ice breaking agar pembelajaran lebih menyenangkan. Ditambahkan oleh Pak Ikhsan “Namun jika masih nervous, maka berdoa, membaca sholawat, dan membaca ”khoirukum bayna a’yunikum wa syarukum tahta arjulikum” dibaca 3x dalam satu nafas.

Sebagai closing statement sesi I, Pak Ikhsan menyampaikan dua pesan  “Pertama, diberi kesempatan untuk khidmah adalah anugerah, jalanilah dengan ikhlas dan sepenuh hati, maka akan mendatangkan keberkahan. Kedua, santri harus memiliki prinsip long life education, ngaji di mana pun, kapan pun, dan bagaimanapun situasinya. Maknai mengajar merupakan bagian dari mengaji, bagian dari mengembangkan ilmu. Seperti yang dikatakan Imam Ghazali bahwa salah satu lantaran mendapatkan ilmu laduni adalah senantiasa mengamalkan ilmu yang telah didapatkan”.

Memasuki sesi II yang diisi oleh Dr. Phil Sahiron, M.A. Beliau merupakan Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Sunan Kalijaga dan pengasuh Pondok Pesantren Baitul Hikmah Yogyakarta. Pak Sahiron menjelaskan tentang metodologi penelitian. Metode penelitian dalam bidang natural sciences tentunya berbeda dengan metode penelitian dalam bidang social sciences. Dalam bidang keagamaan, contoh objek penelitian yang dapat diambil adalah fenomena sosial, misal fenomena sosial di Komplek Q. Penelitian dapat menggunakan penelitian kualitatif maupun kuantitatif.

Pak Sahiron memfokuskan materi metodologi penelitian pada pendekatan analisis dalam penelitian teks tafsir. Pendekatan dalam penelitian tafsir ada beberapa macam, yaitu: Pendekatan Kritik Teks (Textual Criticism) adalah pendekatan yang bertujuan untuk mengetahui otentisitas sebuah teks tafsir. Pendekatan kritik teks memiliki dua sub-pendekatan yaitu sub-pendekatan historis dan sub-pendekatan sastrawi. Penelitian dapat dilakukan dengan mengkaji pemikiran tokoh, misal: Ath Thabari, Muhammad Abduh, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, yang diteliti melalui kitab-kitab karangannya, maka objek penelitiannya adalah teks atau kitabnya.

Salah satu contohnya adalah penelitian Andrew J. Lane yang meneliti teks tafsir al-Kasyaf karya al-Zamakhsyari, dari kajian yang dilakukan pada 204 manuskrip, ada tiga redaksi berbeda dalam satu konteks, yakni ungkapan khalaqa al-qur’an, ja’ala al-qur’an, dan anzala al-qur’an. Perbedaan ini kemudian dibahas dengan langkah-langkah textual criticism. Bahwa Az-Zamakhsyari adalah seorang muktazilah, muktazilah berpandangan bahwa Al-Qur’an adalah mahluk, maka teks yang asli dari Az-Zamakhsyari adalah khalaqa al-qur’an (menciptakan Al-Qur’an). Dari situ juga dapat diketahui bahwa murid Az-Zamakhsyari ada yang beraliran Sunni, yakni menggunakan kata anzala al-qur’an (menurunkan Al-Qur’an).

Dalam melakukan penelitian juga perlu adanya pembanding, perlu dikomparasikan dengan hal lain, contoh: meneliti tentang ulama tertentu, kemudian dibandingkan dengan ulama yang sezaman dengannya, atau sebelum/ sesudah zamannya. Dapat juga meneliti tentang kitab al-Balaghoh al-Wadhihah kemudian dibandingkan dengan Jawami’ul Kalim. Pak Sahiron mengenang bahwa dahulu beliau mengaji kitab al-Balaghoh al-Wadhihah kepada Bapak Warson.

Berbagai macam pendekatan lain juga dapat digunakan dalam sebuah penelitian, misal: pendekatan filosofis, feminis, sosiologis, hermeneutika modern, dll. Bila ingin meneliti sebuah syiir, bisa menggunakan pendekatan sastrawi, dibedah kontennya. Sebagai contoh Asmaul Husna karangan Kyai Ali Maksum. بِسْمِ  اْلِإلهِ  وَبِهِ   بَدَأْنَا, Kyai Ali Maksum memulai dengan bacaan bismillah. Peneliti dapat menganalisis bahwa kalimat pembuka syiir tersebut disandarkan pada hadits sabda Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam bahwa segala sesuatu yang tidak diawali dengan basmalah. Maka dia akan terputus. Artinya, terpotong dan terputus dari rahmat Allah, dst. Dapat pula dikaji tentang biografi pengarang syiir, yakni Kyai Ali Maksum. Namun harus memperhatikan, apa yang menjadi fokus penelitian, jika fokusnya syiirnya, maka biografinya jangan sampai terlalu banyak hingga melebihi porsi syiir yang dikaji dan dianalisis. Jangan sampai lupa dengan fokus penelitian. Membahas hal lain hingga yang menjadi objek utama penelitian kurang porsinya.

Sebagai closing statement, Pak Sahiron menyampaikan bahwa santri yang memiliki kelebihan berupa bahasa asing, khususnya Bahasa Arab, dan beberapa yang menguasai Bahasa Inggris maka gunakan itu sebagai kekuatan untuk melakukan penelitian.

Oleh: Hanin

Foto: Dokumentasi pribadi

Leave a Comment