Abdi Cinta dalam Pusara—“Kyaiku, Aku Rindu”
Pagi yang gaduh. Usai sholat subuh, semua santri berkumpul di mushola, masih lengkap dengan mukenah dan sajadahnya. Terdengar lantunan Surah Yasin yang menggetarkan hati. Pipi-pipi merona itu basah dengan guyuran air mata, begitu pula aku. Air mata ini tak butuh beragam notifikasi untuk jatuh, meluber, kemudian membanjiri pipi dan mukenahku. Lanjut membaca →










